Nusantara News Center (NNC), JAKARTA — Menjelang dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, sejumlah pakar ekonomi menilai arah kebijakan ekonomi nasional mulai menunjukkan sejumlah perubahan. Inflasi, investasi, kemiskinan, hingga kebijakan fiskal menjadi beberapa indikator yang disoroti.

Pakar Ekonomi Universitas Indonesia Telisa Falianty mengatakan kondisi inflasi masih relatif terjaga meski perekonomian menghadapi sejumlah tekanan eksternal. Hal itu disampaikannya dalam diskusi bertajuk Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Bangun Optimisme Ekonomi Indonesia pada Kamis, 24 September 2026.

“Inflasi kita terjaga meski ada Elnino dan supply chain disruption di Selat Hormuz. Kita masih bisa menjaga harga-harga kebutuhan pokok meskipun ada beberapa nanti yang mulai naik karena adanya low season,” kata Telisa.

Ia juga menyoroti perkembangan tingkat kemiskinan dan ketimpangan. Menurut Telisa, secara tren lima tahun terakhir kedua indikator tersebut menunjukkan penurunan, meskipun terdapat kenaikan dalam satu tahun terakhir.

“Meskipun setahun terakhir ini ada naik, naiknya kecil banget. Overall tren dalam 5 tahun terakhir masih oke,” ujarnya.

Kebijakan Pemerintah Mulai Terlihat

Telisa mengatakan sejumlah kebijakan pemerintah mulai dirasakan melalui berbagai program, termasuk upaya menarik investasi, kebijakan iuran BPJS, pengendalian tarif listrik, serta pengelolaan fiskal untuk menjaga keberlanjutan program prioritas.

Menurut dia, pelaksanaan program pemerintah masih membutuhkan penyempurnaan agar dampaknya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

“Jika dikaitkan program prioritas, sudah ada perbaikan. Wajar jika desain awal ada kekurangan, tetapi yang penting terus dilakukan perbaikan agar multiplier effect dirasakan masyarakat,” kata Telisa.

Investasi Mulai Menopang Pertumbuhan

Tenaga Ahli Bakom Fithra Faisal melihat adanya perubahan pada komponen yang menopang pertumbuhan ekonomi. Menurut dia, investasi mulai mengambil peran lebih besar dibandingkan sebelumnya yang banyak ditopang konsumsi.

“Jika zoom in ke variabel pertumbuhan, kita bisa lihat ke investasi yang mana komponen utama pertumbuhan ekonomi sudah mulai berubah mulai ditopang oleh investasi,” ujar Fithra.

Ia menyebut pertumbuhan ekonomi tercatat positif sejak kuartal IV 2025 hingga kuartal I dan II 2026. Menurut Fithra, perubahan tersebut menunjukkan adanya pergeseran struktur dalam pertumbuhan ekonomi nasional.

Fithra juga menyinggung potensi masuknya investasi dari sejumlah negara setelah kunjungan pemerintah ke Jepang, Jerman, Prancis, Rusia, dan China. Negara-negara tersebut disebut memiliki komitmen investasi yang dinilai strategis.

“Melihat potensi investasi yang besar menunjukkan bahwa roadmap pembangunan bangsa ke depan berbasis nilai tambah,” ucap Fithra.

Investasi Perlu Diikuti Pemerataan

Meski mencatat perubahan pada struktur pertumbuhan, Fithra mengatakan masih terdapat persoalan yang perlu diperhatikan. Masuknya investasi, menurut dia, belum otomatis membuat seluruh daerah mengalami perubahan yang sama.

Ia menyoroti masih adanya wilayah dengan tingkat kemiskinan dan pengangguran yang cenderung stagnan.

“Oleh karena itu, pentingnya roadmap pembangunan bangsa tidak hanya investasi, tetapi juga mendatangkan ekonomi yang inklusif,” ujar Fithra.

Diskusi tersebut berlangsung menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Para narasumber membahas perkembangan ekonomi sekaligus sejumlah tantangan yang masih perlu diperhatikan dalam kebijakan pembangunan ke depan.