Peternak mengumpulkan telur dari ayam ras petelur di Peternakan Bumdes Karya Mandiri (Dok. Istimewa)
Nusantara News Center (NNC), Bandung — Integrasi Program Endog Jabar Go Global (EGG) dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jawa Barat diproyeksikan mampu menghasilkan efisiensi anggaran hingga sekitar Rp4,23 triliun per tahun.
Program tersebut menghubungkan peternak ayam petelur dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai bagian dari upaya memperkuat rantai pasok telur untuk kebutuhan MBG sekaligus membuka akses pasar yang lebih pasti bagi peternak.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat, Darwisman, mengatakan integrasi tersebut memungkinkan penyediaan telur untuk kebutuhan MBG dengan harga yang lebih efisien.
“Kemitraan tersebut diproyeksikan menghasilkan efisiensi anggaran sekitar Rp4,23 triliun per tahun melalui penyediaan telur dengan harga sekitar 10 sampai 15 persen lebih rendah dibandingkan harga pasar,” kata Darwisman dalam keterangannya di Bandung, Senin (28/9).
Menurut Darwisman, integrasi dengan MBG merupakan salah satu tujuan Program EGG yang tidak hanya berorientasi pada penyediaan bahan pangan, tetapi juga memperkuat ekonomi daerah melalui akses pembiayaan, penguatan rantai nilai usaha, dan perluasan pasar bagi peternak ayam petelur di Jawa Barat.
Program EGG membangun ekosistem kemitraan dari hulu hingga hilir dengan menghubungkan peternak dengan pembiayaan, produksi dengan pasar, serta pelaku usaha dengan pembeli atau offtaker.
Program tersebut melibatkan 4.565 pelaku usaha ternak ayam petelur, baik perorangan maupun perseroan, yang tersebar terutama di 21 sentra peternakan ayam petelur di Jawa Barat.
Melalui program tersebut, akses pembiayaan perbankan sekitar Rp456,5 miliar diproyeksikan terbuka untuk mendukung pengembangan usaha dan peningkatan pendapatan peternak.
Darwisman mengatakan pendekatan closed loop menjadi bagian penting dalam pengembangan EGG karena akses pembiayaan perlu berjalan beriringan dengan kepastian pasar dan pendampingan usaha.
“Program EGG kami arahkan untuk memastikan akses keuangan berjalan beriringan dengan kepastian pasar, pendampingan, dan penguatan rantai nilai. Dengan demikian, produktivitas dan skala usaha peternak dapat terus berkembang,” ujarnya.
Integrasi dengan kebutuhan MBG juga membuka peluang bagi peternak untuk memperoleh pasar yang lebih terukur. Di sisi lain, SPPG mendapatkan akses terhadap pasokan telur dengan harga yang lebih kompetitif.
Pengembangan EGG tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan telur untuk pasar domestik. Pada sisi hilir, program tersebut juga diarahkan untuk memperluas pasar produk ayam petelur Jawa Barat ke luar daerah hingga pasar ekspor.
Data semester I 2026 menunjukkan nilai ekspor fertilized eggs for incubation of fowl atau telur tetas Jawa Barat mencapai 550,23 ribu dolar AS, meningkat 513 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Negara tujuan ekspor antara lain Myanmar, Brunei Darussalam, dan Malaysia.
Selain memperluas pasar, pengembangan hilirisasi juga diarahkan pada pengolahan telur menjadi produk bernilai tambah, seperti tepung telur, produk sarapan Breggfast, pupuk berbahan cangkang telur, serta nutrisi hewan peliharaan.
“Diversifikasi produk tersebut dapat memperluas pasar sekaligus mengurangi potensi kerugian peternak akibat masa simpan telur ayam yang relatif singkat,” kata Darwisman.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan kolaborasi antara OJK dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam Program EGG penting untuk mengembangkan potensi ekonomi daerah.
“Pembangunan ekonomi daerah membutuhkan sinergi antara pemerintah, industri jasa keuangan, dunia usaha, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya,” ujar Dian.
Menurut dia, kolaborasi lintas sektor dapat mendorong pengembangan komoditas unggulan daerah sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Integrasi EGG dengan MBG menjadi salah satu upaya menghubungkan kebutuhan pangan program pemerintah dengan kapasitas produksi peternak di daerah. Skema tersebut sekaligus membuka ruang bagi penguatan rantai pasok, akses pembiayaan, dan peningkatan nilai ekonomi komoditas peternakan Jawa Barat.
Nusantara News Center