Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada Konferensi Pers 2 Tahun Pemerintahan Bidang Kesehatan di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Nusantara News Center (NNC), Jakarta — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyiapkan dua tabung oksigen berkapasitas besar di setiap puskesmas yang berada di wilayah dengan tingkat polusi udara kategori zona hitam akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah ini dilakukan untuk memperkuat penanganan warga yang mengalami gangguan pernapasan akibat paparan kabut asap.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, sekitar 21 kabupaten dan kota teridentifikasi masuk kategori zona hitam. Pemetaan tersebut dilakukan setelah Kemenkes meninjau kondisi kabut asap di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, dan mengidentifikasi wilayah dengan kualitas udara yang mengkhawatirkan.
“Sekarang yang kita lakukan habis pulang dari sana, kita kumpulin daerah-daerah yang hitam itu ada berapa kemarin itu? 21-an kalau enggak salah kabupaten, kota,” ujar Budi di kantornya, Senin (26/10/2026), sebagaimana dikutip iNews.
Budi menegaskan, seluruh puskesmas di wilayah tersebut harus memiliki persediaan dua tabung oksigen berukuran besar. Peralatan itu disiapkan agar petugas kesehatan dapat memberikan penanganan awal kepada pasien yang mengalami sesak napas atau penurunan saturasi oksigen.
“Itu semuanya kita lengkapi seluruh puskesmasnya harus ada dua tabung oksigen yang besar, supaya kalau sudah ada yang sesak, saturasi oksigennya turun, bisa langsung di-treatment di puskesmas,” kata Budi.
Menurut Kemenkes, oksigen menjadi salah satu kebutuhan penting dalam penanganan pasien yang mengalami gangguan pernapasan. Selain menyediakan tabung oksigen, pemerintah juga mendorong penguatan layanan rumah oksigen agar masyarakat terdampak lebih mudah memperoleh penanganan awal tanpa harus langsung menuju rumah sakit, selama kondisi pasien memungkinkan.
Kemenkes sebelumnya juga menginstruksikan puskesmas di wilayah terdampak karhutla untuk membuka layanan rumah oksigen dan memastikan ketersediaan obat-obatan, terutama untuk penanganan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare. Dukungan logistik kesehatan, termasuk masker dan alat konsentrator oksigen, turut disiapkan sesuai kebutuhan daerah.
Di tengah upaya tersebut, masyarakat di wilayah terdampak tetap perlu mengurangi paparan asap, khususnya anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga dengan penyakit penyerta. Warga yang mengalami sesak napas disarankan segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis.
Penyediaan tabung oksigen menjadi salah satu langkah tanggap kesehatan untuk menghadapi dampak karhutla. Namun, efektivitasnya juga bergantung pada ketersediaan tenaga medis, obat-obatan, kesiapan peralatan, serta kemampuan pemerintah daerah memastikan layanan tersebut benar-benar dapat diakses masyarakat yang membutuhkan.
Nusantara News Center