NUSANTARA NEWS CENTER (NNC) – Penguatan ekonomi hijau dinilai menjadi salah satu kunci menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia agar tetap berkeadilan, inklusif, dan berkelanjutan di tengah berbagai tantangan global. Hal tersebut mengemuka dalam Pleno VII bertajuk "Tantangan dan Agenda Pertumbuhan dan Ketahanan Ekonomi yang Berkeadilan, Inklusif, dan Berkelanjutan" pada Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Jakarta.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Prof. Sylvia Veronica Nalurita Purnama Siregar, menegaskan bahwa pembangunan ekonomi tidak boleh hanya berorientasi pada pertumbuhan jangka pendek, tetapi juga harus memperhatikan kelestarian lingkungan serta kesejahteraan generasi mendatang. Menurutnya, konsep ekonomi hijau menyeimbangkan aspek ekonomi, lingkungan, dan sosial dalam setiap kebijakan pembangunan.

Sementara itu, Deputi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN, Ferry Irawan, menyampaikan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan berupa ketidakpastian ekonomi global, pelemahan kelas menengah, dan menurunnya daya beli masyarakat. Pemerintah, kata dia, terus mendorong penguatan sektor pertanian, manufaktur, ekonomi digital, energi, serta ekonomi syariah sebagai mesin pertumbuhan baru yang selaras dengan agenda pembangunan berkelanjutan.

Para pembicara juga menekankan bahwa keberhasilan mewujudkan ekonomi hijau membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi keagamaan, media, dan masyarakat. MUI menilai nilai-nilai ekonomi hijau sejalan dengan ajaran Islam yang mengedepankan tanggung jawab dalam menjaga lingkungan dan memanfaatkan sumber daya secara bijaksana demi kesejahteraan lintas generasi.