Ada satu pertanyaan sederhana yang semakin sulit dijawab pada zaman ini: apa yang benar?
Dahulu, manusia mencari kebenaran melalui ilmu pengetahuan, agama, pengalaman, dan dialog yang panjang. Hari ini, kebenaran sering kali ditentukan oleh algoritma, jumlah likes, atau siapa yang paling keras berbicara. Kita hidup pada masa ketika setiap orang memiliki versinya sendiri tentang realitas. Tidak sedikit yang kemudian menganggap bahwa semua pendapat memiliki nilai yang sama, seolah fakta hanyalah salah satu pilihan di antara sekian banyak narasi.
Di sinilah postmodernisme menjadi relevan.
Postmodernisme lahir sebagai kritik terhadap cara berpikir modern yang terlalu percaya bahwa rasio mampu menjelaskan segala hal. Ia mengingatkan manusia bahwa sejarah sering ditulis oleh pihak yang menang, bahwa kekuasaan dapat menyusup ke dalam bahasa, media, bahkan ilmu pengetahuan. Dalam banyak hal, kritik ini benar. Tidak ada sistem yang boleh kebal dari pertanyaan. Tidak ada kekuasaan yang pantas diterima tanpa diuji.
Namun setiap gagasan memiliki sisi lain. Ketika kritik berubah menjadi penolakan terhadap semua bentuk kepastian, lahirlah persoalan yang lebih rumit.
Jika tidak ada lagi kebenaran yang dapat dijadikan pijakan bersama, bagaimana masyarakat dapat mengambil keputusan? Jika semua dianggap relatif, siapa yang menentukan mana informasi yang dapat dipercaya dan mana yang sekadar manipulasi?
Di era digital, persoalan itu semakin nyata. Kita tidak lagi kekurangan informasi, justru kita tenggelam di dalamnya. Setiap hari ribuan berita, video, opini, dan potongan pernyataan berseliweran memenuhi ruang digital. Sayangnya, kecepatan informasi sering kali mengalahkan kedalaman berpikir. Orang lebih cepat membagikan sesuatu daripada memverifikasinya. Emosi lebih mudah diterima daripada argumentasi.
Ironisnya, teknologi yang seharusnya mendekatkan manusia justru sering mempersempit cara pandangnya. Algoritma media sosial bekerja dengan menunjukkan apa yang ingin kita lihat, bukan apa yang perlu kita ketahui. Perlahan-lahan kita hidup dalam ruang gema (echo chamber), dikelilingi orang-orang yang berpikir sama, sementara pandangan berbeda dianggap ancaman.
Dalam situasi seperti ini, postmodernisme tanpa batas berubah dari alat pembebasan menjadi sumber kebingungan.
Bukan berarti kita harus kembali kepada cara berpikir yang menolak kritik. Kritik adalah napas demokrasi. Perbedaan pendapat adalah syarat kemajuan. Tetapi kritik membutuhkan fondasi. Kebebasan membutuhkan tanggung jawab. Tanpa keduanya, ruang publik hanya akan dipenuhi pertengkaran yang tidak pernah menghasilkan penyelesaian.
Indonesia memiliki modal yang sangat berharga untuk menghadapi tantangan ini. Bangsa ini dibangun bukan di atas keseragaman, melainkan kesediaan untuk hidup bersama dalam perbedaan. Pancasila bukan sekadar dokumen politik, melainkan kesepakatan filosofis bahwa keberagaman memerlukan titik temu. Demokrasi bukan tentang siapa yang paling keras berbicara, melainkan bagaimana perbedaan dapat diolah menjadi keputusan bersama.
Karena itu, tantangan terbesar generasi hari ini bukan melawan teknologi, melainkan mengendalikan cara berpikir di tengah ledakan teknologi. Literasi digital tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan internet. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan membedakan fakta dari opini, argumentasi dari propaganda, dan kritik dari fitnah.
Kita memerlukan keberanian untuk meragukan informasi, tetapi juga kerendahan hati untuk menerima fakta ketika fakta itu bertentangan dengan keyakinan kita sendiri. Itulah inti berpikir kritis yang sesungguhnya.
Postmodernisme mengajarkan bahwa manusia tidak boleh menerima segala sesuatu secara membabi buta. Pelajaran itu tetap penting. Tetapi masyarakat juga memerlukan nilai-nilai yang mampu menyatukan, standar yang dapat dipertanggungjawabkan, dan komitmen bahwa tidak semua hal dapat dinegosiasikan. Kejujuran, kemanusiaan, keadilan, dan pencarian kebenaran adalah fondasi yang tidak boleh hilang hanya karena dunia menjadi semakin kompleks.
Pada akhirnya, peradaban tidak runtuh karena terlalu banyak pertanyaan. Peradaban runtuh ketika manusia berhenti mencari jawaban yang benar.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh jutaan suara, mungkin yang paling dibutuhkan bukanlah orang yang paling lantang berbicara, melainkan mereka yang tetap sabar mencari kebenaran meski kebenaran itu tidak selalu populer.
Oleh: Radityo Satrio