Pendiri sekaligus CEO Meta Mark Zuckerberg berbicara dalam acara Meta Connect di kantor pusat Meta di Menlo Park, California, Amerika Serikat, Rabu (27/9/2023).
Nusantara News Center (NNC), Jakarta — Perdebatan mengenai regulasi kecerdasan buatan (AI) di Amerika Serikat memasuki babak baru. Tiga tokoh besar industri teknologi, Mark Zuckerberg, Elon Musk, dan CEO Nvidia Jensen Huang, dilaporkan secara terpisah menyampaikan keberatan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap rencana pembentukan badan pengawas khusus AI.
Laporan tersebut pertama kali diberitakan The Wall Street Journal, yang mengutip sejumlah sumber terkait pembicaraan tersebut. Ketiganya disebut menghubungi Trump dalam beberapa pekan terakhir untuk menyampaikan kekhawatiran terhadap rencana lembaga pengawasan yang diusulkan untuk industri AI.
Rencana badan tersebut sebelumnya didorong oleh CEO Google DeepMind Demis Hassabis dan sejumlah pemimpin perusahaan AI. Konsepnya disebut mengambil model Financial Industry Regulatory Authority (FINRA), lembaga yang mengawasi industri sekuritas Amerika Serikat di bawah pengawasan pemerintah.
Khawatir Pengawasan Justru Perkuat Pemain Besar
Salah satu keberatan yang muncul adalah kekhawatiran bahwa badan pengawas yang didanai industri justru dapat memperkuat posisi perusahaan AI terbesar.
Laporan mengenai komunikasi para bos teknologi dengan Trump menyebut mereka menilai mekanisme semacam itu berpotensi menciptakan hambatan bagi perusahaan lain yang ingin masuk ke industri AI.
Sikap tersebut memperlihatkan adanya perbedaan pandangan di antara para pemimpin teknologi mengenai bagaimana risiko AI harus ditangani.
Zuckerberg dan Huang sebelumnya menyampaikan bahwa perusahaan AI memiliki insentif untuk menjaga keamanan teknologi yang mereka kembangkan. Keduanya juga menolak gagasan perlunya perlambatan pengembangan AI secara terkoordinasi melalui aturan baru.
Musk Berada di Posisi yang Berbeda dalam Isu Perlambatan AI
Sementara itu, posisi Elon Musk dalam perdebatan AI memiliki nuansa berbeda. Musk bersama CEO Anthropic Dario Amodei dan CEO OpenAI Sam Altman termasuk tokoh yang mendukung langkah untuk memperlambat pengembangan AI frontier serta memperkuat mekanisme keselamatan.
Namun, dalam isu pembentukan badan pengawas yang diusulkan, Musk dilaporkan ikut menyampaikan keberatan kepada Trump.
Perbedaan sikap tersebut menunjukkan bahwa perdebatan di industri AI tidak hanya terbagi antara pihak yang mendukung dan menolak regulasi. Para pelaku industri juga memiliki pandangan berbeda mengenai bentuk pengawasan, mekanisme keselamatan, serta siapa yang seharusnya menjalankan pengawasan tersebut.
Trump Pilih Pendekatan Regulasi Ringan
Trump sendiri selama ini menyatakan keberatan terhadap regulasi AI yang dinilai dapat memperlambat perkembangan teknologi Amerika Serikat.
Dalam pernyataan terbarunya, Trump mengatakan pemerintah dapat melakukan intervensi apabila diperlukan, tetapi tetap menginginkan pendekatan regulasi yang ringan.
Sikap Gedung Putih tersebut berlangsung ketika sejumlah perusahaan teknologi justru mendorong perdebatan lebih luas mengenai risiko AI, termasuk kebutuhan evaluasi independen dan standar keselamatan.
Dengan keberatan dari Zuckerberg, Musk, dan Huang terhadap badan pengawas yang diusulkan, pembentukan mekanisme pengawasan AI di AS kini menghadapi perbedaan pandangan dari kalangan industri maupun pemerintahan.
Perdebatan tersebut diperkirakan terus berkembang seiring semakin cepatnya pengembangan AI dan meningkatnya tuntutan agar teknologi tersebut tetap berada dalam batas pengawasan manusia.
Nusantara News Center