Titik api karhutla di Way Kambas, Lampung, dalam konferensi pers BNPN, Senin (26/10/2016).
Nusantara News Center (NNC), Lampung Timur — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan masih terdapat 34 titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, dengan sekitar 16 hektare lahan yang belum padam berdasarkan data per 24 Oktober 2026. Tim gabungan terus melakukan pemadaman melalui jalur darat dan udara untuk mengendalikan api di kawasan konservasi tersebut.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Suar Pelita Panjaitan, menyampaikan bahwa operasi penanganan karhutla di Way Kambas telah berlangsung sejak September dan kembali diperkuat pada Oktober. Kebakaran yang mulai terdeteksi pada 22 September itu menjadi perhatian karena medan yang sulit dijangkau menyulitkan proses pemadaman.
“Kami ingin menyampaikan bagaimana penanganan karhutla di Lampung, di Taman Nasional Way Kambas. Saat ini kami sudah memulai operasi sebenarnya sejak tanggal 22 September, dan terus kami lakukan juga di tanggal 25 September, berlanjut lagi tanggal 22 Oktober, dan saat ini kita fokuskan lagi menangani karhutla tersebut,” ujar Berton dalam konferensi pers, Senin (26/10/2026).
Dalam penanganannya, BNPB mengerahkan dukungan udara menggunakan helikopter Sikorsky Black Hawk UH-60L untuk melakukan water bombing. Sementara itu, tim darat melibatkan pengelola TNWK, TNI, Polri, BPBD, mitra konservasi, masyarakat, serta unsur pendukung lainnya.
Petugas di lapangan dibagi menjadi beberapa tim dengan tugas berbeda, mulai dari pemantauan menggunakan drone, pemadaman api di kawasan rawa gambut, distribusi air, hingga pemasangan selang menuju titik api. Selang sepanjang kurang lebih tiga kilometer juga digunakan untuk menyalurkan air ke lokasi yang sulit dijangkau.
Kendala pemadaman meliputi vegetasi kering yang rapat, angin kencang, medan yang sulit ditembus, serta jarak sumber air yang cukup jauh. Kondisi tersebut membuat upaya pengendalian api membutuhkan koordinasi dan pemantauan secara berkelanjutan untuk mencegah kebakaran meluas.
Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi juga menyoroti pentingnya menelusuri penyebab kebakaran, terutama karena sejumlah titik api berada di dekat permukiman warga. Ia menyatakan evaluasi akan dilakukan bersama kepolisian, TNI, masyarakat peduli api, dan unsur terkait lainnya.
“Kenapa ini penyebabnya? Apakah murni alam? Atau memang ada perbuatan-perbuatan dari saudara-saudara kita yang berusaha untuk membakar hutan?” ujar Kristomei saat meninjau penanganan karhutla di Way Kambas, Sabtu (24/10/2026).
Kristomei turut mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Menurutnya, tindakan tersebut dapat menambah beban petugas yang sedang berupaya memadamkan api. Penelusuran penyebab kebakaran diperlukan agar penanganan tidak hanya berfokus pada pemadaman, tetapi juga pencegahan kejadian berulang.
Kebakaran di kawasan Taman Nasional Way Kambas menjadi perhatian karena wilayah tersebut merupakan kawasan konservasi yang menjadi habitat beragam satwa liar. Percepatan pemadaman, pengawasan titik api, dan penyelidikan penyebab kebakaran menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko kerusakan ekosistem. Data 34 titik dan 16 hektare yang belum padam merupakan catatan per 24 Oktober, sehingga perkembangan berikutnya perlu merujuk pada pembaruan resmi dari petugas di lapangan.
Nusantara News Center