Presiden AS Donald Trump berjabat tangan dengan PM Israel Benjamin Netanyahu saat konferensi pers di klub Mar-a-Lago miliknya pada 29 Desember 2025 di Palm Beach, Florida.
Nusantara News Center (NNC), Yerusalem — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menonjolkan dukungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjelang pemilihan umum Israel pada 27 Oktober 2026. Dukungan tersebut disertai pernyataan mengenai kemungkinan melanjutkan upaya militer untuk menghadapi Iran, di tengah belum adanya kepastian bahwa perang kedua negara akan kembali berkobar.
Dalam penampilan yang disiarkan televisi pada Minggu malam (25/10/2026), Netanyahu menyebut hubungan dengan Trump sebagai kemitraan yang sangat penting bagi Israel. Ia juga mengingatkan pemilih bahwa masa jabatan Trump di Gedung Putih masih menyisakan sekitar dua tahun, sehingga kerja sama keduanya dinilai dapat berlanjut apabila Netanyahu tetap memimpin pemerintahan Israel.
“Presiden AS Donald Trump telah datang dengan persahabatan yang belum pernah ada sebelumnya antara seorang perdana menteri Israel dan seorang presiden Amerika,” kata Netanyahu. Ia menambahkan bahwa Israel mungkin tidak akan kembali memiliki presiden AS yang begitu bersahabat dengan negaranya.
Trump sebelumnya secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap Netanyahu melalui unggahan di media sosial. Ia menyerukan warga Israel untuk memilih pemimpin tersebut dan menyebut masih ada pekerjaan yang harus dituntaskan dari perang bersama melawan Iran yang dimulai pada Februari 2026.
“Vote for Bibi Netanyahu for Prime Minister, we have to finish the job that we started!” tulis Trump. Pernyataan tersebut dapat diterjemahkan sebagai seruan untuk memilih Netanyahu sebagai perdana menteri karena keduanya harus menyelesaikan pekerjaan yang telah dimulai.
Netanyahu kemudian mengaitkan dukungan Trump dengan upaya menghadapi ancaman Iran. Ia menyatakan bahwa Trump bersedia mengambil tindakan untuk menghilangkan ancaman tersebut. Netanyahu juga mengungkapkan telah memerintahkan badan intelijen Mossad dan militer Israel untuk berupaya menjatuhkan pemerintahan Iran.
Pernyataan tersebut menimbulkan perhatian karena mengindikasikan bahwa opsi militer masih menjadi bagian dari sikap Netanyahu terhadap Teheran. Meski demikian, pernyataan politik tersebut belum dapat dianggap sebagai pengumuman resmi dimulainya kembali perang atau penetapan jadwal serangan baru.
Sikap Washington juga menunjukkan adanya batasan terhadap kemungkinan operasi militer dalam waktu dekat. Juru Bicara Wakil Gedung Putih Anna Kelly menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan sela Kongres AS pada 3 November 2026. Pemerintahan Trump juga menyatakan blokade terhadap Iran tetap diberlakukan.
Di dalam negeri Israel, dukungan Trump menjadi salah satu isu yang mewarnai persaingan politik menjelang pemungutan suara. Netanyahu menempatkan keamanan nasional dan ancaman Iran sebagai bagian penting dari pesannya kepada pemilih. Sementara itu, pesaingnya, Gadi Eisenkot, mengkritik penggunaan narasi ancaman dan menilai kampanye tersebut mengandalkan ketakutan serta klaim yang menyesatkan.
Perkembangan ini memperlihatkan bahwa isu Iran tidak hanya berkaitan dengan keamanan regional, tetapi juga menjadi bagian dari persaingan politik di Israel dan Amerika Serikat. Kemungkinan berlanjutnya perang tetap bergantung pada keputusan pemerintah terkait, perkembangan negosiasi, dan situasi keamanan. Hingga pernyataan tersebut disampaikan, belum ada kepastian bahwa operasi militer skala besar terhadap Iran akan kembali dilaksanakan.
Nusantara News Center