Nusantara News Center (NNC), Sumbawa — Badan Gizi Nasional (BGN) menyelidiki dugaan pelanggaran standar operasional prosedur (SOP) dalam pengolahan makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sumbawa Tarano Labuhan Bontong, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Penyelidikan dilakukan setelah 34 siswa penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mengalami gangguan kesehatan pada Selasa (27/10/2026).

Juru Bicara BGN, Tysa Novenny, mengatakan operasional SPPG tersebut telah dihentikan sementara dengan status suspend kategori sedang. Keputusan ini diambil sembari menunggu hasil pemeriksaan sampel makanan oleh instansi terkait untuk mengetahui penyebab kejadian.

“SPPG Sumbawa Tarano Labuhan Bontong saat ini sudah diberikan surat pemberhentian sementara atau suspend dengan kategori sedang. Berkaitan dengan tindak lanjutnya, kami akan menunggu hasil pemeriksaan makanan oleh instansi terkait,” ujar Tysa dalam keterangan resmi BGN, Selasa (27/10/2026).

Berdasarkan investigasi awal, dugaan sementara mengarah pada menu telur saus woku yang disajikan kepada para siswa. Menurut keterangan awal kepala SPPG, proses perebusan telur dilakukan sekitar pukul 00.00 WITA, sedangkan prosedur yang berlaku menetapkan perebusan dimulai pukul 02.00 WITA. Perbedaan waktu tersebut menjadi salah satu aspek yang sedang ditelusuri oleh BGN.

Tysa menjelaskan, pemeriksaan dilakukan terhadap seluruh tahapan pelayanan makanan, mulai dari penyiapan bahan baku, proses pengolahan, hingga penyajian kepada penerima manfaat. Evaluasi tersebut bertujuan mengetahui apakah terdapat prosedur yang tidak dijalankan sesuai ketentuan dan menentukan langkah perbaikan yang diperlukan.

“Kami menelusuri setiap tahapan, mulai dari pengolahan hingga penyajian makanan, untuk mengetahui apakah terdapat prosedur yang belum dijalankan sesuai ketentuan. Hasil evaluasi ini akan menjadi dasar bagi langkah perbaikan agar standar keamanan pangan diterapkan secara konsisten,” kata Tysa.

Berdasarkan laporan BGN hingga Selasa (27/10/2026) pukul 22.35 WITA, sebanyak 34 siswa menjalani observasi di dua fasilitas kesehatan. Sebanyak 32 siswa berada di Puskesmas Tarano, sedangkan dua siswa lainnya ditangani di Puskesmas Empang. BGN melaporkan kondisi para siswa berangsur membaik dan dua siswa telah diperbolehkan kembali ke rumah.

BGN juga menyampaikan permohonan maaf kepada siswa terdampak, orang tua, dan pihak sekolah. Lembaga tersebut menyatakan terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, fasilitas kesehatan, pemerintah daerah, dan pihak terkait untuk mendukung penanganan siswa sekaligus mengawal proses evaluasi.

Meski dugaan awal mengarah pada proses pengolahan telur, BGN menegaskan bahwa temuan tersebut belum cukup untuk menetapkan penyebab pasti gangguan kesehatan. Hasil pemeriksaan sampel makanan dan penelusuran lebih lanjut masih diperlukan sebelum kesimpulan dapat ditetapkan. Kasus ini kembali menyoroti pentingnya kepatuhan terhadap SOP dan pengawasan keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG, terutama karena penerima manfaatnya mencakup anak-anak usia sekolah.