Nusantara News Center (NNC), Jakarta — Para pimpinan konfederasi buruh dari negara-negara ASEAN berkumpul di Jakarta untuk memperkuat solidaritas dan menyatukan agenda perjuangan kesejahteraan pekerja. Persoalan upah, perlindungan tenaga kerja, penguatan organisasi serikat pekerja, hingga hak-hak buruh migran menjadi sejumlah isu utama yang dibahas dalam pertemuan tersebut.

Agenda itu berlangsung dalam ASEAN Trade Union Council (ASEAN TUC) Regional Summit pada 29–31 Oktober 2026. Pertemuan diselenggarakan oleh ASEAN TUC bersama International Labour Organization (ILO) Bureau for Workers’ Activities (ACTRAV), dengan menghadirkan sejumlah perwakilan organisasi buruh dan lembaga ketenagakerjaan.

Presiden ASEAN TUC sekaligus Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea, mengatakan pertemuan tersebut menjadi ruang untuk menyamakan pandangan mengenai persoalan yang dihadapi pekerja di kawasan Asia Tenggara.

“Pertemuan ini sangat penting karena seluruh pimpinan konfederasi buruh dari negara-negara ASEAN hadir untuk membahas persoalan pengupahan, kesejahteraan buruh, manajemen organisasi serikat pekerja, serta perlindungan buruh migran di ASEAN,” kata Andi Gani, Kamis (29/10/2026).

Menurut Andi Gani, koordinasi lintas negara diperlukan agar serikat pekerja dapat memperkuat upaya memperjuangkan hak-hak buruh. Mobilitas tenaga kerja antarnegara, khususnya pekerja migran, juga perlu diimbangi dengan perlindungan yang menjamin pemenuhan hak, keamanan, dan kesejahteraan mereka.

Pertemuan tersebut turut dihadiri Menteri Ketenagakerjaan Yassierli, Direktur ILO ACTRAV Oliver Röpke, Sekretaris Jenderal ASEAN TUC Raymond Mendoza, serta Ariel Castro selaku Desk Officer Asia Pasifik ILO ACTRAV. Dalam rangkaian kegiatan itu, Yassierli menyerahkan Certificate of Recognition kepada ASEAN TUC seiring pemindahan kantor pusat organisasi tersebut dari Manila, Filipina, ke Jakarta.

Keberadaan kantor pusat ASEAN TUC di Indonesia diharapkan memperkuat koordinasi gerakan buruh regional dan kerja sama dengan pemerintah. Direktur ILO ACTRAV Oliver Röpke juga menyoroti pentingnya komunikasi terbuka antara serikat pekerja dan pemerintah untuk membahas persoalan ketenagakerjaan serta mencari solusi atas beragam kepentingan di dunia kerja.

Meski demikian, agenda pertemuan regional perlu diikuti langkah konkret agar manfaatnya dapat dirasakan pekerja. Pembahasan mengenai upah dan kesejahteraan, misalnya, perlu diterjemahkan menjadi upaya yang terukur dalam memperkuat perlindungan pekerja, termasuk mereka yang bekerja lintas negara.

ASEAN TUC disebut mewakili lebih dari 20 juta pekerja di kawasan Asia Tenggara. Dengan jangkauan tersebut, koordinasi antarkonfederasi menjadi salah satu saluran untuk menyuarakan kepentingan buruh di tengah perubahan dunia kerja. Tantangan berikutnya adalah memastikan hasil pertemuan ditindaklanjuti melalui kerja sama dan kebijakan yang memperkuat hak serta kesejahteraan pekerja.